Jalan yang Kupilih
Dari Buku Puisi “Kalender Tanpa Tahun” (dicetak tahun 2016)
___
Playlist:
Album KTT - Country:
https://www.youtube.com/playlist?list=PL6GN2juwzE17RsTt3Rrd9Z-bkKS4wa-oO
[Verse 1]
Di balik denting lagu keras di radio tua,
Nada-nadanya tak selalu kupahami.
Aku lari dari jam kerja dan angka-angka,
Mencari makna di antara lelah dan sepi.
Berbaring lama jadi cara bertahan,
Menghitung waktu—alasan menunda ketakutan.
[Pre-Chorus]
Bukan aku tak punya harapan,
Aku hanya gentar menatap hari depan.
[Chorus]
Aku ingin jalan, bukan sekadar doa,
Bukan janji kosong yang kupeluk semata.
Berhenti berputar dalam kebiasaan,
Berlari ke jati diri—bukan angan-angan.
Aku ingin hidup yang benar-benar nyata,
Bukan mimpi yang tinggal di kepala.
[Verse 2]
Tanganku belajar melukis di kain tua,
Warna-warna lahir dari bingung usia.
Aku coba bicara, tapi dunia berpidato,
Terlalu ramai untuk sekadar mendengar hatiku.
Lebih baik pergi menenangkan diri,
Ke sunyi yang jujur dan tak menghakimi.
[Pre-Chorus]
Di lembah, pantai, atau lereng yang sepi,
Aku temukan diriku tanpa perlu bersandiwara lagi.
[Chorus]
Aku ingin jalan, bukan sekadar doa,
Bukan keyakinan yang menggantung tanpa arah.
Berhenti berdiam di gubuk rapuh,
Menunggu waktu yang tak pernah jatuh.
Aku ingin hidup yang berani memilih,
Menjadi diri sendiri—meski harus sepi.
[Bridge]
Aku lelah dijejali nasihat masa lalu,
Pengalaman orang lain tak selalu jalanku.
Psikologi bilang: takut itu manusiawi,
Filsafat mengingatkan: makna lahir saat kuputuskan sendiri.
Bukan menghindar, tapi bertanggung jawab,
Atas langkah kecil yang kuambil dengan sadar.
[Chorus]
Aku ingin melukis lagi, mewujudkan mimpi,
Bukan hanya indah di kertas atau merdu di lagu ini.
Biar tintaku jatuh ke alun-alun kota,
Menyentuh pinggiran, menguatkan yang terlupa.
[Outro]
Jika karyaku terbuang lalu ditemukan,
Oleh anak yang hampir kehilangan harapan,
Biarlah ia tahu: kita tak sendirian,
Aku ingin tak asing lagi—
Di dunia yang akhirnya kupilih sebagai rumahku.
Dari Buku Puisi “Kalender Tanpa Tahun” (dicetak tahun 2016)
___
Playlist:
Album KTT - Country:
https://www.youtube.com/playlist?list=PL6GN2juwzE17RsTt3Rrd9Z-bkKS4wa-oO
[Verse 1]
Di balik denting lagu keras di radio tua,
Nada-nadanya tak selalu kupahami.
Aku lari dari jam kerja dan angka-angka,
Mencari makna di antara lelah dan sepi.
Berbaring lama jadi cara bertahan,
Menghitung waktu—alasan menunda ketakutan.
[Pre-Chorus]
Bukan aku tak punya harapan,
Aku hanya gentar menatap hari depan.
[Chorus]
Aku ingin jalan, bukan sekadar doa,
Bukan janji kosong yang kupeluk semata.
Berhenti berputar dalam kebiasaan,
Berlari ke jati diri—bukan angan-angan.
Aku ingin hidup yang benar-benar nyata,
Bukan mimpi yang tinggal di kepala.
[Verse 2]
Tanganku belajar melukis di kain tua,
Warna-warna lahir dari bingung usia.
Aku coba bicara, tapi dunia berpidato,
Terlalu ramai untuk sekadar mendengar hatiku.
Lebih baik pergi menenangkan diri,
Ke sunyi yang jujur dan tak menghakimi.
[Pre-Chorus]
Di lembah, pantai, atau lereng yang sepi,
Aku temukan diriku tanpa perlu bersandiwara lagi.
[Chorus]
Aku ingin jalan, bukan sekadar doa,
Bukan keyakinan yang menggantung tanpa arah.
Berhenti berdiam di gubuk rapuh,
Menunggu waktu yang tak pernah jatuh.
Aku ingin hidup yang berani memilih,
Menjadi diri sendiri—meski harus sepi.
[Bridge]
Aku lelah dijejali nasihat masa lalu,
Pengalaman orang lain tak selalu jalanku.
Psikologi bilang: takut itu manusiawi,
Filsafat mengingatkan: makna lahir saat kuputuskan sendiri.
Bukan menghindar, tapi bertanggung jawab,
Atas langkah kecil yang kuambil dengan sadar.
[Chorus]
Aku ingin melukis lagi, mewujudkan mimpi,
Bukan hanya indah di kertas atau merdu di lagu ini.
Biar tintaku jatuh ke alun-alun kota,
Menyentuh pinggiran, menguatkan yang terlupa.
[Outro]
Jika karyaku terbuang lalu ditemukan,
Oleh anak yang hampir kehilangan harapan,
Biarlah ia tahu: kita tak sendirian,
Aku ingin tak asing lagi—
Di dunia yang akhirnya kupilih sebagai rumahku.
- Category
- COUNTRY HITS
Commenting disabled.















